Popular Post

Posted by : N+Bayu Rabu, 07 Januari 2015



Di dalam suatu daerah terdapat sebuah kerajaan yaitu kerajaan Labai Lawai pada suatu hari raja labai lawai menikahkan putrinya  atau bahasa setempat disebut Begawai ,pada saat mengadakan gawai tersebut para ulun-ulun (pesuruh) raja ,membersihkan dan mengambil organ organ dalam ayam yang merupakan makanan kesukaan sang raja Labai Lawai ,pada saat para ulun membersihkan ayam tersebut  ternyata organ dalam ayam ayam tersebut hilang entah kemana ,melihat peristiwa tersebut para ulun-ulun raja takut untuk mengatakan hal tersebut kepada raja dan mereka tidak berani kembali ke kerajaan karena organ dalam ayam yang disukai
sang raja hilang entah kemana ,para ululn-ulun pun berniat menggantikan organ dalam ayam ayam tersebut dengan cacing tamau (cacing tanah besar) setelah organ dalam ayam ayam tersebut telah digantikan isi perut nya dengan cacing tamau tersebut para ulun-ulun pun kembali kekerajaan dan sesampai di kerajaan para ulun-ulun pun di perintahkan oleh raja untuk segera memasak dan menyajikan organ dalam tersebut yang telah digantikna oleh cacing tanpa sepengatahuan raja ,setelah para ulun-ulun menghidangkan cacing tersebut kepada raja ,raja pun langsung mencobanya dan raja sangat menyukainya dan raja pun tidak ingin memakan sapi atau kerbau lagi karena raja telah menyukai cacing tersebut.
            Singkat cerita ,pada saat acara pernikahan tersebut berlangsung  tiba-tiba hujan turun dan petir menyambar kemana-mana dan membuat acara pernikahan tersebut menjadi kacau sang raja pun keluar istana untuk melihat keadaan diluar ,sesampai diluar tidak berselang lama datanglah sebuah cacing yang besar yang marah dan murka karena para ulun-ulun kerajaan menggantikan organ-organ dalam ayam dengan cacing-cacing mereka dan hal tersebut membuat antu cacing marah dan murka kepada raja yang telah memakan cacing tersebut ,cacing pun semakin murka dan menumbangkan pohon besar disekitar istana dan pohon tersebut menimpa istana dan istana pun hancur.
            Dalam keadaan darurat raja dan ulun-ulunnya yang selamat pergi dari kerajaan mereka mereka pergi ke hulu sekadau ,mereka memutuskan untuk menetap sementara di hulu Sekadau .Setelah beberapa lama kemudaian mereka memutuskan untuk mencari sungai dan bermaksud untuk menelusuri sungai sekadau ,tidak lama kemudian mereka menemukan sungai sekadau dan mereka membuat Bidar atau kapal-kapal yang besar pada jaman kerajaan ,setelah bidar tersebut selesai mereka mulai menelusuri sungai sekadau dan bermaksud untuk mencari nanga sungai atau muara sungai. Pada saat dalam perjalan Raja dan para ulun-ulun melihat sebuah bukit yang menghadang di depan sungai dan mereka kira sungai ini buntu,Raja dan ulun-ulun pun mengambil daun nyur atau kelapa dan membuangnya di sungai untuk melihat apakah sungai benar benar buntu atau tidak ,setelah mereka lihat ternyata daun nyur tadi terus melaju dan mereka pun tau bahwa sungai sesungguhnya tidak buntu nama ada persimpangan, mereka pun melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka pun memutuskan singgah disuatu daratan yaitu kematu ,mereka menetap di kematu dan membuat sebuah kerajaan yang baru yang disebut KERAJAAN KEMATU.
            Raja pertama yang memerintah kerajaan kematu adalah Raja Engkong yang bergelar Pangeran Agung Prabubaya .
Ketika Raja Engkong mengatakan ingin memilih penerus tahta kerajaan ,mereka berempat saudara tersebut berkelahi untuk merebut tahta kerajaan.Tidak beberapa lama Raja Engkong jatuh sakit dan didetik-detik nafas terakhirnya ia berpesan dan mengangkat Pangeran Kadar sebagai penerus Kerajaan Kematu ,saudara nya yang lain pun iri dan termasuk Pangeran Agung ,Pangeran Agung pun melarikan diri ke Lawang Kuari bersama Ratu Kudong dan pengikutnya yang bersuku cina (tionghua) ,senganan (melayu) ,dayak yang lebih dengan nama suku CIDAYU ,dan saudaranya Pangeran Senarong melarikan diri ke Belitang dan mendirikan sebuah kerajaan disana dan dia sebagai Rajanya ,sedangkan Pangeran Suma melarikan diri ke Sekadau dan mendirikan kerajaan disana.
            Kerajaan Sekadau yang dipimpin oleh Pangeran Suma yang mendirikan kraton sungai Bara’k ,dan pada saat itu ajaran agam Islam telah masuk ke kerajaan ,tetapi masih mempertahankan lamanya.Setelah Raja Suma tinggal di kerajaan sekadau Raja Suma bermaksud untuk mengujungi ayahnya yang menjadi Raja Kematu yaitu Raja Kadar ,setelah Raja Suma sampai di Kerajaan Kematu Raja Suma jatuh sakit dan meniggal di Kerajaan Kematu dan di makamkan di Kematu.
      Setelah menerima kabar dari Kerajaan Kematu bahwa Raja Suma telah meninggal karena sakit yang di deritanya kerajaan pun menggantikan Raja Suma dengan putranya yaitu ,Sultan Anom Ahmad Kamarudin yang bergelar Abang Todong.
            Pada masa pemerintahaan Raja Sultan Anom ,Raja Anom menghapuskan kebiasaan lama yaitu masih mengonsumsi tuak dan arak dan menjadikan agama islam sebagai agama resmi di Kerajaan Sungai Bara’k dan mendirikan masjid Jami At-Taqwa yang di kubah masjidnya diberi sebuah tempat arak dan tuak atau yang dikenal dengan tempayan yang di pasang secara terbalik yang mengandung makna bahwa masyarakat kerajaan telah berhenti dan melarang meminum arak dan tuak.



       
Makam Pangeran Suma di desa Kematu

 


Makam Pangeran Kadar di desa Kematu

 
            Dokumen ini diambil dan dibuat dengan semestinya sesuai dengan cerita aslinya yang disampaikan oleh sejarawan kematu yaitu Bapak Loyo.
Sekadau Hulu ,08 Juni 2014

Sumber Sejarah
Loyo

Jika Ingin Memposting Artikel Ini Cantumkan Sumber "portal-nugraha.blogspot.com" 

Tinggalkan Komentar Anda ,Terimakasih  

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Portal Nugraha - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -